Gaya Pengasuhan dan Interaksi Orang tua-Anak

Dalam pengasuhan anak tentu akan memiliki dampak terhadap perkembangannya, oleh sebab itu orang tua dalam memberikan pengasuhan kepada anak tidak dapat sembarangan dan berhati-hati dalam mendidik, karena anak akan memiliki dampak yang akan membentuk suatu karakter pada dirinya hingga nanti ia menjadi orang dewasa. Biasanya orang tua memiliki 2 ciri yang paling umum dalam tugas pelaksanaan pengasuhan (parenting style) yaitu demandingness dan responsiveness.  Demandingness merupakan suatu bentuk orang tua yang memberikan tuntutan- tuntutan atau keinginan kepada anak yang menjadikan anak sebagai bagian dari keluarga, harapan saat anak dewasa, disiplin,  hingga perilaku menghadapi suatu permasalahan, dan semua faktor itu di kendalikan (control) oleh orang tua. Berbeda dengan responsiveness, yaitu suatu bentuk orang tua yang tanggap dalam memberikan pengasuhan, sehingga responsiveness akan membimbing kepribadian anak, pengaturan diri, dan kebutuhan-kebutuhan anak yang lainnya, sehingga bentuk dari responsiveness seperti penerimaan, suportif kepada anak, pemberian afeksi, dan penghargaan. Hal ini juga di dasari oleh teori psikososial yang di kemukakan oleh Baumrind, yang menggolongkan 4 tipe pola asuh sebagai gabungan dari kedua hal di atas, yaitu authoritative (otoritatif), authoritarian (otoriter), permissive (permisif), rejecting-negelcting (penolakan/ tidak peduli). 

Bentuk pengasuhan permisif biasanya paling sering di lakukan oleh orang tua yang terlalu baik, memberikan kebebasan yang berlebihan, menerima dan memaklumi perilaku yang di lakukan oleh anak, hingga sedikitnya memberikan tanggung jawab dan keteraturan pada anak. Orang tua seperti ini akan selalu memenuhi apapun kebutuhan si anak, membiarkan anak mengatur diri nya sendiri, tidak terlalu mematuhi kebutuhan dan perkembangan eksternal, dan jika hal ini terjadi secara terus menerus dan secara berlebihan setiap waktunya maka akan menjadi bentuk pengasuhan neglecting (penolakan/ tidak peduli) terhadap anak.

Gaya pengasuhan otoriter yang di berikan orang tua, akan selalu ingin membentuk, mengontrol, dan meminta anak untuk sesuai dengan aturan standar di rumah. Otoriter merupakan pengasuhan yang menekankan bahwa otoritas yang paling tinggi, yaitu dimana kepatuhan anak merupakan hal yang paling di utamakan. Setiap pelanggaran yang di lakukan oleh anak maka tidak akan luput dari pemberian hukuman. Orang tua menganggap bahwa anak merupakan tanggung jawab dirinya, dan dengan perinsip seperti itu orang tua akan merasa bahwa orang tua yang tahu akan masa depan si anak, orang tua tahu apa saja demi kebaikan si anak tanpa memperhatikan keinginan dan kemampuan dari si anak. Anak-anak juga kurang akan mendapat penjelasan secara rasional atas peraturan yang di berikan, sehingga anak terkadang hanya diminta patuh tanpa mengerti alasan mereka tidak boleh seperti yang di minta orang tua.

Gaya pengasuhan yang menurut saya paling baik untuk di lakukan ialah otoritatif. Gaya pengasuhan ini berbanding terbalik dengan otoriter, yaitu di mana anak akan di berikan alasan rasional setiap orang tua membuat peraturan, dan anak akan mengerti dan menghargai hal tersebut. Orang tua juga lebih bersikap terbuka kepada anak atas kebutuhan dan pandanganya, menghargai kualitas kepribadian anak sebagai suatu peribadi yang unik dan tidak sama. Agar lebih mudahnya saya melampirkan gaya pengasuhan tersebut :

sumber : Psikologi keluarga (2012)

Setelah melihat ke empat gaya pengasuhan orang tua, tentu ada ciri khas yang terjadi pada umumnya di anak. Efek yang di rasakan dari pengasuhan yang di berikan pada anak tentu berbeda-beda. Anak dengan pengasuhan otoritatif akan cenderung periang, memiliki rasa tanggung jawab sosial, percaya diri, berorientasi pada prestasi, dan lebih kooperatif. Anak dengan pengasuhan otoriter cenderung moody, kurang bahagia, mudah tersinggung, kurang memiliki tujuan dan tidak bersahabat. Anak dengan pengasuhan permisif akan cenderung impulsif, agresif, bossy, kurang kontrol diri, kurang mandiri, dan kurang berorientasi pada prestasi.

“Orangtua perlu mengisi ember harga diri anak mereka dengan sangat tinggi sehingga seluruh dunia tidak mampu mengurasnya sampai kering.”

Alvin Price

Sebenarnya, pengasuhan anak yang baik merupakan suatu bentuk pengasuhan yang dilakukan dengan dua arah, dimana artinya memiliki bahwa orang tua dan anak memiliki hubungan yang bersifat interaksional yang bisa di simpulkan perilaku orang tua akan mempengaruhi perilaku anak, dan sebaliknya perilaku anak akan mempengaruhi respon orang tua. Dengan demikian orang tua dan anak sama-sama di anggap memiliki kontribusi terhadap proses pengasuhan.

Proses pengasuhan juga tidak luput dari riwayat orang tua, kepribadian orang tua, relasi perkawinan (istri/suami), lingkungan, pekerjaan, dan karakteristik anak. Semua ini dapat mempengaruhi bagaimana orang tua dapat menentukan pengasuhan kepada anak. Saya beri contoh : jika orang tua memiliki pekerjaan seorang anggota militer, tentu anak juga akan di berikan pengasuhan otoriter atau kepatuhan, memberi perintah, dan otoritasi yang tinggi. Contoh kedua seperti orang tua yang dibesarkan dengan gaya pengasuhan otoriter maka tidak menutup kemungkinan akan melakukan hal serupa kepada anak.

Maka dengan demikian, diharpkan agar orang tua dapat lebih bijaksana dalam mengasuh dan memberikan bentuk pengasuhan kepada si anak. Perhatikan kebutuhan anak dan hal yang di harapkan oleh anak. Hal ini merupakan tidak mudah bagi orang tua, dan menjadi tantangan baru bagi orang tua muda yang baru memiliki anak atau yang akan berkeluagra. Semoga dapat membantu teman-teman sekalian, dan jika terdapat hal yang kurang di pahami agar dapat memberikan komentar atau pada bagian contact me.

Terima kasih ^^

Daftar Pustaka :

Sri Lestari. 2012. Psikologi Keluarga. Prenada Media Group : Jakarta

Iklan

Pernikahan di usia dini

Melihat fenomena yang terjadi belakangan ini mengenai pernikahan di usia dini, tentu turut diperhatikan oleh berbagai pihak yang terkait mengenai hal ini. Terutama pernikahan dini yang di maksud yaitu usia dibawah 17 tahun. Pembahasan kali ini tentu diluar dari konteks Suku, Agama, Budaya, dan Kepercayaan suatu keluarga atau individu.

Pernikahan secara kharafiah merupakan suatu proses menjalin hubungan yang lebih intim atau menjalin suatu ikatan yang membentuk sebuah keluarga, dimana status akan berubah menjadi pasangan suami dan istri. Berdasarkan peraturan di Indonesia dalam UU No 16 tahun 2019, untuk membentuk suatu keluarga harus memiliki usia minimal 19 tahun, baik laki-laki maupun pada perempuan, dan menurut WHO (World Helth Organization) juga memiliki standar yaitu usia minimal 19 tahun, jika di bawah usia tersebut, maka di katakan pernikahan dini. 

Photo by Kseniia Lopyreva on Pexels.com

Sebelum masuk pembahasan mengenai pernikahan dini, sebelumnya saya akan mencoba menjabarkan bagaimana proses pernikahan tersebut. Pernikahan bukan hanya sekedar saling mencintai, dan kemudian langsung menikah, tetapi lebih dari itu yang harus di persiapkan. Sebelum seseorang memutuskan untuk menikah, tentulah ia harus mempersiapkan berbagai hal, terutama pada laki-laki, ia harus mempersiapkan terlebih dahulu finansial, rancangan-rancangan bagaimana ia akan menjadi seorang kepala keluarga. Memang betul rezeki akan datang (istilah orang banyak menyebutkan rezeki akan datang jika menikah), namun tetap perlu di perhatikan, laki-laki tetap harus ada pemikiran jauh kedepan, karena hidup bukan hanya di hari ini saja. Laki-laki juga perlu untuk menyiapkan secara mental sebagai seorang kepala keluarga yang akan menghidupi istri dan anak. Pada perempuan pun begitu juga, seorang perempuan akan memutuskan untuk menikah jika telah siap untuk berkeluarga, sudah siap untuk mengayomi dan melayani suami, menjadi ibu yang pengertian, dan mampu menjadi ibu dimana tempat suami dan anak merasa rumah merupakan tempat yang paling nyaman dan tentram.

Persiapan pernikahan tersebut haruslah di pikirkan secara matang, karena pernikahan bukan untuk sekedar status ataupun tuntutan, dan jangan pernah untuk menganggap pernikahan untuk melarikan diri dari masalah. Saat laki-laki dan perempuan menikah, di saat itulah permasalahan baru akan muncul. Dimana permasalahan akan semakin bertambah dan dengan tingkat kesulitan yang bermacam-macam. Sebagai contoh : seseorang tidak akan dengan mudahnya menyatukan dua pola pikir yang berbeda, karena dua individu ini di besarkan dengan didikan/ pola asuh yang berbeda, dan ini menjadi masalah baru. Contoh kedua, ketika hadirnya buah hati di antara suami istri, tentu akan menjadi suatu hal yang patut di pikirkan, bagaimana pendidikannya, nutrisinya, kebutuhkannya, dan sebagainya. Sehingga hal ini membutuhkan mental yang benar-benar saat memutuskan untuk menikah.

Sehingga menikah bukanlah hal yang mudah dan bukan solusi jika anda merasa belum siap. Karena jika hal ini terjadi, yang akan memiliki dampak akibat kecerobohan orang tua yaitu seorang anak. Banyak dampak yang akan di rasakan oleh anak ketika orang tua berpisah atau kondisi di dalam keluarga tidak hangat, yang mungkin akan kita bahas pada topik berikutnya.

Iklan

Lanjut pada pernikahan usia dini, dengan penjelasan yang saya utarakan di atas, terlihat jelas bahwa seorang anak atau remaja yang menikah usia dini tentu belum mampu memiliki pemikiran di atas, karena seorang yang menikah di bawah usia 19 tahun, artinya seorang anak-anak dan remaja belum memiliki tugas untuk menjadi seorang ayah / ibu. Disisi lain secara medis, rahim hingga alat vital pada perempuan belum matang untuk di buahi dan melakukan hal intim, dan jika terjadi dapat menyebabkan luka, infeksi hingga mengalami penyakit pada kelamin. Dimana usia perkembangan anak-anak dan remaja juga tidak seperti masa perkembangan orang dewasa yaitu anak-anak akan bermain, belajar, memiliki teman pergaulan teman sebaya, dan sebagainya, dan ketika pernikahan usia dini, hal tersebut harus putus dan hilang. Seorang anak-anak dan remaja yang melakukan pernikahan dini, tentu belum memiliki tanggung jawab seperti orang dewasa. Dengan tidak memiiliki tanggung jawab yang sesuai usianya, maka hal ini tentu dapat menyebabkan seseorang yang melakukan pernikahan dini akan rentan memiliki permasalahan pada psikologisnya. Seseorang akan merasa tertekan, stres, bahkan jika seseorang memiliki fisik dan mental yang lemah, ketika melahirkan akan memiliki permasalahan baru contohnya babyblues. Sehingga saya pribadi sangat menyayangkan untuk melakukan pernikahan di usia dini.

Photo by C Technical on Pexels.com

“Pernikahan yang memuaskan adalah pernikahan yang diisi dengan lima kali lebih banyak percakapan yang positif daripada yang negatif”

Paus Yohanes Paulus II

Pendapat lain ada yang mengatakan bahwa pernikahan dini memliki dampak positif, yaitu akan menghindarkan laki-laki dan perempuan dari tindakan asusila/ amoral (seks bebas), perilaku menyimpang, dll. Menurut saya pribadi, ada banyak cara untuk menghindari seseorang dari perilaku asusila/ amoral, yaitu dengan melakukan pendidikan sexeducation. Hal ini perlu di ajarkan kepada anak, hal-hal yang tidak boleh dilakukan, dan hal mana yang orang lain tidak boleh lakukan kepada si anak, sehingga hal ini akan menghindari dari salah pergaulan, seks bebas dan hal lainnya.

Sekian pembahasan saya kali ini, bagi anda yang ingin menikah saya menghimbau untuk dapat melakukan konseling pernikahan terlebih dahulu, atau dapat melihat kembali pada diri anda, seberapa siapkah anda untuk menjalani kehidupan berkeluarga ? dan bagi anda yang telah berkeluarga, anda sebagai pasangan suami dan istri lebih seringlah melakukan toleransi dengan suami atau dengan istri, maka akan memperkecil munculnya masalah, dan ketika ada masalah akan memperbesar penyelesaiannya.Sehingga akan mewujudkannya keluarga yang harmonis.

Terima kasih, semoga dapat membantu saudara dan teman-teman sekalian. 

Iklan

Polemik LGBT yang pernah terjadi di Indonesia

Dahulu pernah terjadi polemik pendapat yang di kemukakan oleh DS bahwa LGBT merupakan gangguan yang di sebabkan oleh masa lalu seseorang, dan hal tersebut dapat disembuhkan dengan hypnotherapi. Sebelumnya DS merupakan seorang yang memiliki gelar Doktor Psikologi namun mengaku dirinya psikolog dan memiliki license untuk praktek dan ternyata hal tersebut tidak ada.

Diluar dari permasalahan tersebut, pembahasan kali ini mengenai pendapatnya mengenai LGBT yang ditentang oleh salah seorang influencer bahwa LGBT bisa di sebabkan oleh masa lalu seseorang dan bisa di sembuhkan.

Sebelumnya kita akan membahas sedikit mengenai Lesbi Gay Biseksual dan Transgender (LGBT). Terlepas dari konteks Agama, hal ini khususnya di Indonesia merupakan hal yang bertentangan dengan adat dan kebudyaan yang di percaya oleh masyarakat, sehingga seorang LGBT akan sulit ketika hendak menjalin hubungan di Indonesia terutama dalam mengakui status hubungan seperti pernikahan atau menjalin hubungan keluarga sehingga banyak LGBT di Indonesia jika hendak menikah akan keluar negeri. 

Tetapi di masa sekarang sudah banyak di temukan bahwa seorang LGBT sudah mulai berani menunjukan identitas diri mereka ke publik dan mengakui keberadaannya. LGBT dalam DSM IV (Diagnostic and statistical manual of mental disorder 4th) dianggap merupakan suatu gangguan yang di derita seorang individu, namun mengikuti perkembangan jaman yang ada, dalam pembaharuan DSM V (Diagnostic and statistical manual of mental disorder 5th) LGBT sudah tidak di anggap gangguan, namun di anggap sebagai salah satu bentuk orientasi seskual seseorang. dan apakah bisa di sebabkan oleh masa lalu ? Tentu bisa, gangguan masa sekarang, sebagian besar di sebabkan oleh masa lalu. termasuk penyimpangan orientasi seksual pada seseorang. 

Jika perkakas yang kamu punya hanyalah sebuah palu, kamu cenderung melihat kalau setiap masalah adalah paku.

Abraham Maslow

Seseorang yang mengalami LGBT bisa mengalami banyak penyebab dan kejadian yang telah di alami, bisa seperti pelecehan seksual di masa anak-anak, remaja atau pun bisa mengalami keretakan rumah tangga, melihat ibu nya di perlakukan tidak baik, kekerasan dalam rumah tangga sehingga membenci sosok Ayah/ Ibu. Hal ini bisa menjadi pemicu seseorang untuk tidak ingin menjalin hubungan dengan lawan jenis. Faktor lainnya bisa seperti pasangan yang berselingkuh, sering merasa sakit hati, dan sebagainya. Bahkan bisa di sebabkan pola asuh orang tua, seperti orang tua yang memperlakukan anak nya tidak sesperti gendernya misalnya anak laki-laki diberikan perlakuan seperti anak perempuan, di berikan baju, sepatu, warna, dan aksesoris model perempuan, begitu juga sebaliknya.

Dari sekian banyak contoh yang saya berikan, apakah bisa di berikan treatmen hypnoterapi kepada seorang individu yang mengalami LGBT ?  Tentu bisa, jika hal ini di sebabkan oleh masa lalu sesorang bisa di berikan treatmen, namun jika karena kelainan kromosom / faktor medis, tentu hal ini berbeda ya. Hal lain yang perlu di perhatikan dalam prorses pemberian treatmen tentunya harus ada niat seorang individu tersebut yang ingin berubah, ada kesadaran, keinginan, dan tanpa adanya paksaan dari lingkungan ataupun seorang terapis.

Bagaimana bisa hypnoterapi dapat memberikan efek pada seseorang LGBT ? 

Hypnoterapi merupakan suatu metode yang membawa anda ke dalam pikiran bawah sadar. Dalam pikiran bawah sadar banyak hal yang anda simpan pada saat seseorang di masa anak-anak yang mengalami kekerasan seksual, KDRT, dan contoh lain yang saya berikan di atas. Dengan demikian kejadian yang pernah dialami tersebut di munculkan kembali, dan melepaskan emosi yang terkandung dalam kejadian tersebut hingga menjadi netral, setelah itu diisi dan di gantikan dengan emosi yang positif. Caranya tidak se sederhana dan semudah yang saya tulis, namun membutuhkan sesi dan waktu yang cukup untuk seseorang yang mengalami luka yang cukup dalam dan lama.

Photo by Jeswin Thomas on Pexels.com

Sehingga hal ini memungkinkan bahwa hypnoterapi dapat membantu individu yang mengalami gangguan orientasi seksual, gangguan psikologis, dalam proses medis, untuk motivasi, dan berbagai manfaat dalam banyak bidang lainnya.

Sekian untuk pembahasan kali ini, semoga dapat memberikan pengetahuan yang baru bagi anda yang membaca. Bagikan hal baru yang anda baca kepada teman, atau saudara anda. Jika ada hal yang ingin anda tanyakan silahkan mengisi bagian komentar atau mengunjungi bagian contact me.

Terima Kasih

Toxic Partner

Sebelum menikah atau pun sebelum menjalin hubungan seperti pacaran atau kejenjang yang lebih serius sering kali kita terlebih dahulu melihat bibit bebet bobot pasangan. Bagaimana asal usulnya, sifatnya, perilakunya, emosinya dan sebagainya. Kemudian barulah kita memutuskan untuk melangkah ke jenjang berikutnya. Namun di masa sekarang seseorang dapat menutupi kekurangannya atau perilaku buruknya dan baru terlihat setelah menikah atau jenjang yang lebih serius.

Perilaku buruk banyak bentuknya, namun yang akan bahas mengenai toxic sebagai pasangan. Sama seperti pembahasan sebelumnya mengenai toxic friends atau pun toxic parents. Pasangan yang baik tentu akan membangun dan membentuk hal yang positif pada pasangannya, tidak menyakiti dan memiliki pengaruh yang buruk terhadap pasangan. Hal ini sering terjadi pada beberapa orang, dan yang membuat perihatin bahwa tidak dapat membela diri, bertindak hingga hanya dapat pasrah. Hal ini bisa di pengaruhi oleh beberapa hal, seperti Usia, seseorang yang lebih tua dibandingkan pasangan memang biasanya lebih bijak dalam berfikir, ataupun dalam bertindak, namun tidak menutup kemungkinan akan merasa lebih merasa lebih tau dan mengerti apa yang terbaik. Gender, stereotip yang ada di masyarakat terjadi pada laki-laki lebih berkuasa, lebih mendominasi, lebih mampu di bandingkan perempuan. Hal ini dapat memicu perilaku buruk terhadap pasangan. Pekerjaan/ Karir, pola asuh orang tua hingga lingkungan tempat tinggal.  

“Tanpa sasaran dan rencana meraihnya, Anda seperti kapal yang berlayar tanpa tujuan.”

Fitzhugh Dodson

Banyak faktor yang menyebabkan pasangan memiliki perilaku yang buruk, dan tidak menutup kemungkinan hal diatas dilakukan oleh perempuan. Baik laki-laki maupun perempuan semua memiliki kesempatan untuk berperilaku toxic sebagai pasangan.  Bagaimana kah ciri perilaku toxic sebagai pasangan ?

  1. Pasangan selalu mencari- cari kesalahan anda, pasangan akan selalu mengkritik, mencari kekurangan yang anda miliki tanpa melihat sisi yang anda kerjakan, atau yang anda lakukan. 
  2. Pasangan yang merendahkan atau menjatuhkan harga diri anda. Misalnya seperti kalimat “ Make up kamu terlalu berlebihan”, “ Baju kamu tidak bagus”, “Masakan mu tidak enak, lebih enak punya si a”. 
  3. Pasangan terlalu mengendalikan hidup anda, contoh yang tepat pada bagian ini seperti over protektif terhadap pasangan. Orang seperti ini biasanya lebih sering cemburu dan tidak mempercayai pasangan.
  4. Pasangan selalu menyalahkan anda atau bahkan orang lain ketika mendapat suatu permasalahan. Misalnya mendapatkan permasalahan di kantor bisa jadi ketika di saat pulang ia akan menyalahkan anda atas apa yang terjadi, dan sambil meluapkan emosi yang di rasakan.
  5. Pasangan menganggap anda sebagai lawan untuk kompetisi. Kompetisi yang di maksud ialah seperti pasangan harus lebih mampu dari pada anda, lebih sukses, lebih berhasil di bandingkan anda. Hubungan yang baik akan selalu melengkapi dan tidak menjadikan pasangan sebagai lawan kompetisi.
  6. Pasangan membuat anda merasa melakukan semuanya sendiri. Ini termasuk dalam toxic partner dalam hubungan, karena hubungan yang baik akan saling membantu dan tidak membiarkan pasangan melakukan sesuatu sendiri.
  7. Kekerasan pada hubungan, merupakan perilaku yang sering terjadi, banyak bentuknya seperti verbal maupun secara fisik, dan banyak dari kita merasakan hal tersebut tetapi tidak dapat berbuat banyak karena merasa sudah di jenjang pernikahan, atau pasrah karena takut, malu kepada orang tua atau pada orang lain karena hal tersebut merupakan pasangan pilihan anda, dan banyak hal lainya

Ciri di atas merupakan beberapa dari banyak ciri lainnya yang terjadi di sekitar kita. Jika anda sebelum menempuh ke jenjang pernikahan mungkin anda dapat memikirkan kembali jika ingin kejenjang yang lebih serius. Karena dalam pernikahan tidak ada kata mundur dan tidak jadi ketika sudah sah. Lalu apa yang dapat kita lakukan kita sudah menuju jenjang pernikahan atau pada jenjang yang lebih serius selain menerima tingkah laku pasangan ? diantaranya seperti :

Iklan
  1. Jika pasangan suka mengkritik, atau mengeluhkan sesuatu, mintalah pasangan anda untuk menentukan hal yang diinginkannya atau gunakan lah apa yang dapat saya lakukan untuk membuat hal ini menjadi lebih baik ?
  2. Carilah support system di sekitar anda. Karena support system akan membangun diri anda menjadi positif, seimbangkan dengan pasangan anda yang selalu memberikan dampak negatif sehingga anda tidak terhanyut pada dampak negatif
  3. Komunikatif dengan pasangan anda. Katakan apa yang anda rasakan, ungkap perasaan anda, terbukalah secara pasangan tanpa menutupi sesuatu, hal ini akan membangun rasa trust pada pasangan anda dan pasangan akan melihat diri anda apa adanya.
  4. Jika anda merasakan sakit hati, sedih, dan emosi negatif lainya yang di akibatkan oleh ucapan atau perkataan pasangan, perilaku dan sebagainya, anda dapat meluapkan emosi yang anda miliki dengan berbagai cara positif yang anda sukai, misalnya anda dapat meluapkan dengan menulis di catatan pribadi anda. Teknik relaksasi juga dapat meringankan perasaan yang anda miliki.
  5. Lakukan lah “Me Time”, hal ini di perlukan untuk mereset diri anda. Mereset dimaksud kan untuk menyegarkan pikiran dan hati anda kembali. Self care juga dapat membantu anda agar tidak menjadi toxic partner.
  6. Carilah bantuan tenaga profesional

Beberapa cara di atas dapat anda terapkan agar anda tetap menjadi orang yang positif dan tidak terkena dampak dari pasangan yang toxic. Jika anda masih dapat membuat keputusan sebelum menikah tentukanlah dengan bijak, karena tidak mudah merubah perilaku dan attitude. Karena hal tersebut sudah menyatu dengan diri orang tersebut, dan untuk anda yang sudah menikah semoga anda dan pasangan dapat saling mendukung dan menjadi pasangan yang membuahkan hal yang baik dan membahagiakan orang sekitar. Semoga tulisan ini dapat membantu orang sekitar anda yang membutuhkan, bagikan dan berikan kepada teman atau kerabat anda mengenai pengetahuan baru yang baru anda dapat. Jika masih terdapat hal yang tidak di mengerti atau ingin di tanyakan dapat menuju pada bagian komentar di bawah atau bagian contact me.

Terima kasih

Iklan

Inner Child

Pembahasan kali ini mengenai bagian di dalam diri seseorang yang bereaksi atau berperan menjadi anak-anak. Seseorang yang dewasa tetap masih terhubung dengan inner childnya, hal ini yang menyebabkan seseorang ketika memiliki trauma masa lalu atau pada masa kanak-kanak akan muncul di masa sekarang atau diwaktu dewasa. Perlu di tekankan inner child berbeda dengan childish, namun kondisi childish bisa dipengaruhi oleh masa kanak-kanak atau kejadian yang di alami pada waktu masih kecil. 

Orang dewasa yang memiliki trauma atau luka di waktu anak-anak akan selalu terhubung dengan inner childnya kemana pun orang ini berada, dan akan muncul di waktu kapan pun ketika ada stimulus atau pemicu yang memunculkan efek dari trauma masa lalu tersebut. Dalam proses penyembuhan trauma atau luka di waktu anak-anak tidak semuanya dapat dengan cepat dan mudah, perlu dilakukannya proses penerimaan diri. Penerimaan diri bisa mencakup memaafkan orang lain, diri sendiri, hingga menerima kondisi yang telah terjadi, karena banyak yang terjadi orang yang mengalami inner child belum dapat menerima kondisi dan keadaan masa lalu.

Kondisi masa lalu apa saja kah yang dapat membuat seseorang memiliki luka di masa anak-anak atau trauma masa lalu? 

  1. Kehilangan seseorang yang disayangi seperti orang tua atau anggota keluarga yang lain
  2. Mendapatkan perilaku bullying atau perploncoan di depan orang banyak
  3. Mengalami pelecehan seksual atau kekerasan secara seksual
  4. Mengalami kejadian bencana alam yang hebat
  5. Terjadi kekerasan fisik atau verbal oleh lingkungan
  6. Mengalami penelantaran oleh orang tua atau wali
  7. Perpecahan di dalam keluarga
  8. Kejadian lainnya yang memiliki unsur emosi negatif seperti ketakutan, marah, sedih dan emosi negatif lainnya yang terjadi di saat masa anak-anak 

Dari sekian banyak kejadian yang terjadi di masa lalu, namun jika tidak di tangani dengan baik, dampak yang di rasakan dapat terjadi di masa kini atau ketika dewasa. Seperti apa saja kah dampak yang dirasakan? 

  1. Seseorang bisa bergantung dengan orang lain. Perilaku dependent ini biasanya di pengaruhi oleh perilaku orang tua yang memanjakan dari kecil, memenuhi semua kebutuhan anak, dan mengatur dalam menentukan sesuatu
  2. Berperilaku yang membahayakan diri sendiri atau orang lain.
  3. Tidak percaya diri, perilaku ini sering dipengaruhi saat anak terkena bullying hingga perilaku otoriter orang tua
  4. Memiliki permasalahan tidak percaya pada pasangan, ini bisa terjadi karena melihat orang tua berselingkuh dan sebagainya
  5. Tidak menyukai lawan jenis, bisa terjadi karena orang tua menyakiti pasangan, atau bahkan pernah mengalami pelecehan dan kekerasan seksual
  6. Dan lainnya

Seseorang biasanya tau akan permasalahannya, namun banyak orang yang tidak ingin memunculkannya dan hanya menguburnya, hal ini merupakan cara yang tidak dibenarkan dengan mengubur trauma atau luka di masa anak-anak. Semakin lama seseorang mengubur trauma masa lalu semakin lama juga seseorang akan mengalami penderitaan yang dirasa. Mengubur bukan berarti menyelesaikan.

“Ingatlah selalu bahwa Anda lebih berani dari yang Anda yakini, lebih kuat dari yang Anda lihat, dan lebih cerdas dari yang Anda pikirkan.”

Christopher Robin

Diatas telah saya katakan bahwa inner child dapat muncul ketika seseorang mengalami suatu stimulus. Saya mengambil salah satu contoh dampak diatas. Misalnya, B yang melihat orang tua berselingkuh dan berpisah. Ketika B sudah dewasa akan memunculkan issue trust pada pasangan. Hal ini terjadi karena B ragu terhadap pasangannya mengingat kejadian yang pernah dialami dan memunculkan overthinking, bahkan ada pula kejadian B akan selalu menemukan pasangan yang berselingkuh dan akhirnya berpisah secara berulang seperti istilah “lingkaran setan”. 2 hal diatas merupakan kejadian bila seseorang terjadi trauma masa lalu.

Apa yang dapat dilakukan dalam menghadapi inner child ? 

Pertama, terima masa lalu diri anda, kenali diri anda, pahami keinginan diri anda. Cara ini mungkin tidak semudah yang dibayangkan. Namun cara ini membantu anda dalam menghadapi inner child

Kedua, meluapkan emosi yang di rasakan, meluapkan dapat dengan cara yang positif, seperti menulis menceritakan semua hal yang dirasakan, yang dialami dalam kertas, dapat dengan bercerita kepada orang yang di percaya

Ketiga, laukan terapi hypnosis. Cara ini dapat membantu anda yang membutuhkan bantuan dalam menghadapi trauma masa lalu atau luka di masa anak-anak. Dengan cara ini biasanya akan memunculkan kembali ingatan maupun kejadian yang pernah anda alami.

Keempat, anda bisa melakukan meditasi, hal ini dapt membantu anda mengurangi emosi negatif.

Kelima, konsultasikan kepada tenaga ahli/ profesional. Dengan anda berani menceritakan kepada tenaga ahli merupakan tahap awal dari kesembuhan anda. 

Sekian tulisan saya, semoga dapat memberikan pengetahuan baru yang bermanfaat, bagikan kepada teman anda yang membutuhkan bantuan, dan jika terdapat bagian yang kurang di pahami, dapat menuju kolom komentar atau menuju bagian contact me. 

Terima kasih

Iklan

Support System

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak kejadian, aktifitas, pengalaman yang terjadi hingga suatu peristiwa yang mengandung unsur emosional. Misal ketika anda mengalami kejadian yg menyedihkan atau kejadian yang begitu berat, anda membutuhkan tempat berbagi cerita, membagikan apa yang anda rasakan kepada orang yang anda percaya. Kemudian orang yang mendengarkan anda, memberikan dukungan, semangat dan hal yang membangun diri anda menjadi lebih baik, orang tersebut telah menjadi support system anda. 

Lalu bagaimana kah arti support system secara harafiah ? Yaitu suatu bentuk dukung sosial yang berisikan orang yang dipercayakan untuk menyampaikan keluh kesah, dan mencari tempat untuk bimbingan. Orang yang bisa di jadikan support system biasanya tidak banyak, bisa berupa keluarga, adik/kakak, sahabat, dan orang terdekat lainnya yang memiliki suatu hubungan. 

Apakah penting mempunyai support system ? 

Tentu penting, karena dengan memiliki support system akan menjauhkan anda dari bermacam-macam gangguan psikologis, salah satunya depresi. Dengan berbagi kepada orang yang anda percaya akan mengurangi beban pikiran, mengurangi emosi negatif seperti takut, marah, dan lainnya. Percaya atau tidak seseorang introvert sekali pun akan membutuhkan orang yang dipercayai untuk berbagi cerita

Support system dibutuhkaan oleh siapa saja, pria, wanita, lansia, orang dewasa, remaja, bahkan anak-anak dijaman sekarang memiliki kedekatan dengan teman yang dipercayai seperti sahabat ketimbang orang tua. Hal ini menjadi topik permasalahan tersendiri kenapa anak lebih dekat kepada teman dibandingkan orang tua, sedikit menyinggung hal ini biasanya karena orang tua yang tidak mendengar apa yang ingin di katakan oleh anak, bahkan menunjukan ekspresi marah jika anak menceritakan kesalahan anak, hingga anak tidak berani bercerita kepada orang tua karena takut dan lebih memilih kepada teman.

“Perjalanan ribuan mil dimulai dengan langkah pertama.”

Lao Tzu

Lanjut pada pembahasan mengenai support system, terdapat beberapa tips yang mungkin bisa dilakukan agar support system yang di miliki lebih efektif yang bisa di rasakan efeknya pada diri kita, yaitu :

  1. Bersahabatlah dengan diri sendiri terlebih dahulu, sebelum kepada orang lain. Jangan lupa dengan istilah “cintai diri mu sendiri sebelum mencintai orang lain”, isitlah ini sungguh membantu diri anda masing-masing. Diri anda juga merupakan salah satu bagian dari support system. Sehingga ketika anda sudah bersahabat dengan diri sendiri dan pada waktu anda merasa jatuh, merasa terpuruk, anda akan lebih mudah mengendalikannya, akan jauh lebih mudah hal apa yang harus anda lakukan.
  2. Membangun support system dari lingkup yang kecil. Hal ini bisa anda terapkan pada anggota keluarga. Keluarga yang di maksud bisa orang tua, kakak atau adik, saudara seperti sepupu. Dukungan dari keluarga mempunyai pengaruh yang besar, karena keluarga biasanya akan membantu dan memberikan pelajaran mengenai hal baru dalam kehidupan, meski terkadang tidak menutup kemungkinan pandangan yang banyak dan berbeda sudut pandang dengan yang kita miliki akan menimbulkan perbedaan. 
  3. Membangun persahabtan, hal ini bukan hal yang mudah, biasanya sahabat muncul dan tercipta jika satu frekuensi dengan kita, maksudnya yaitu terdapat kesamaan yang di miliki, misal sifat, hobi, aktifitas, dan sebagainya. Jalin lah sahabat yang benar-benar sahabat, bukan persahabatan yang merugikan seperti pemabahsan sebelumnya mengenai toxic friendship. Pilih lah sahabat yang membangun diri anda, membuka wawasan baru, mengembangkan personality anda. Dan jika sudah terbangun persahabatan, jagalah sahabat anda karena sahabat orang yang akan hadir jika anda jauh dari keluarga.
  4. Efektifkan support system anda sebaik mungkin, karena hal ini bukan tentang kuantitas seberapa sering anda bertemu dengan sahabat atau orang yang anda percayakan sebagai support system, tapi kualitas pada saat pertemuan yang harus di efektifkan. Sehingga anda dan mungkin sahabat anda bisa saling bercerita, berbagi pengalaman, bertukar pendapat, meminta dukungan, bantuan dan sebagainya. Fokus lah pada sahabat anda, tingkatkan terus kualitas hubungan anda tersebut.
  5. Perbanyak pertemanan, memiliki banyak teman juga membantu anda dalam memandang suatu permaslaahan dari sudut yang berbeda. Anda dapat mempelajari cara berpikir seseorang ketika ia bercerita. Pengalaman yang mereka berikan juga dapat membantu anda dalam menghadapi permsalahan yang sedang anda hadapi atau mungkin suatu saat ketika anda menghadapi permasalahan yang sama.

Setelah anda melakukan hal tersebut, tentu akan banyak sekali dampak dan efek yang dapat anda rasakan seperti anda terhindar dari gangguan psikologis hingga anda jadi lebih dapat mengeksplor diri anda. Anda mulai mengetahui hal baru yang ada pada diri anda setelah dinilai oleh dari sahabt anda, sehingga anda dapat mengoptimalkan diri sebaik mungkin. 

Semoga pembahasan kali ini memberikan pengetahuan dan hal baru yang dapat anda bagikan kepada orang sekitar anda. Namun, jika terdapat hal yang kurang dapat di mengerti silahkan mengarah pada kolom komentar di bawah atau pada bagian contact me.

Terima Kasih

Iklan

Toxic Parents

Berdasarkan pembahasan sebelumnya saya telah membagikan mengenai toxic friendship cara menghindarinya, namun bagaiamana jika ternyata orang tua kita sendiri atau pada anggota keluarga yang umumnya lebih tua dari kita yang memiliki sifat toxic/ buruk? Tentu kita tidak mungkin untuk meninggalkan atau bahkan menjauhi seperti pada pertemanan. Lalu apa yang dapat kita lakukan dalam menghadapi orang tua yang toxic?

Setiap manusia tentu tidak ada yang sempurna, begitu pula dengan orang tua. Orang tua sering kali memiliki perilaku menuntut hingga perilaku buruk yang lain pada anaknya hingga membuat anak memiliki trauma, sikap meniru dari orang tua, sampai membuat anak terpuruk. Hal ini membuat anak terkadang melihat rumah seperti neraka, tidak betah/ nyaman hingga lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah bersama teman dan sedikit bersama orang tua/ keluarga.

Bagaimana bentuk orang tua yang toxic itu?

  1. Orang tua lebih banyak menuntut ketimbang mendengarkan keinginan anak. Orang tua merasa ucapannya lebih benar dan 100% untuk kebaikan anak, meski berbeda dengan kemampuan yang di miliki oleh anak tersebut
  2. Menggunakan kalimat umpatan atau kata yang kasar, dalam mendidik tentu hal ini tidak dibenarkan, seseorang yang dibesarkan dengan kalimat ancaman, kekerasan, hingga perilaku abuse akan menghasilkan anak yang agresif dan melawan
  3. Membandingkan dengan anak lain. Hal ini sering di lakukan tanpa di sadari orang tua, banyak anak yang merasa terbebani, merasa harus bersaing, sampai merasa tidak terima dirinya dibandingkan dengan orang lain.
  4. Menyalahkan anak dan memarahi anak di depan orang lain. Perilaku orang tua seperti ini juga sering di temukan, karena perilaku ini secara reflek muncul. Anak yang di salahkan di depan orang lain akan merasa rendah diri, harga diri rendah, hingga menjadi memiliki perasaan sedih
  5. Mudah meluapkan rasa marah, perilaku ini sering di berikan pada anak, anak salah sedikit tanpa ampun akan memarahi, memukul, menyiksa. Orang tua seperti ini juga tidak dapat mengendalikan perasaan emosi.

“Jika Anda ingin bahagia, tetapkan sasaran yang membangkitkan pikiran, membebaskan energi, dan menginspirasi harapan Anda.”

Andrew Carnegie

Lalu bagaimana cara menghadapi orang tua yang toxic ? terdapat beberapa tips yang bisa di lakukan yaitu seperti :

yang pertama, anda dapat mencari orang yang anda percayai untuk menjadi bagian dari support system dalam menghadapi efek dari orang tua yang toxic. Hal ini dapat membantu anda menghadapi efek seperti stres, sedih, marah dan emosi negatif lainnya dengan cara bercerita. 

kedua, anda dapat menunjukan sifat asertif. Asertif yang dimaksud ialah berani untuk mengatakan keinginan anda pada orang tua, namun tidak dengan nada perlawanan. Hindari juga perdebatan dengan orang tua anda.

Ketiga, yang perlu anda ketahui ialah anda tidak dapat merubah perilaku orang tua anda, yang dapat anda lakukan terima lah orang tua anda. Meski anda mengetahui bahwa salah yang orang tua anda lakukan, bicarakanlah baik-baik. Saat anda merubah perilaku orang tua anda, hanya akan memunculkan perdebatan dan menimbulkan pertengkaran. 

Keempat, kontrol emosi anda. Lakukan beberapa relaksasi yang dapat anda lakukan sendiri. Relaksasi dapat berupa pernafasan, pikiran, dan hal lainnya.

Beberapa cara diatas dapat anda lakukan. Namun jika permasalahan anda berat segera ke tenaga profesional seperti psikolog dan jika menimbulkan permasalahan pada psikis segeralah ke psikiater. Semoga pembahsan kali ini dapat membantu anda dan orang lain yang memerlukan bantuan.

Terima kasih

Iklan

Apakah Penting Mencintai Diri Sendiri?

Mencintai diri sendiri atau istilah yang sering di dengar yaitu self love, merupakan suatu bentuk kepedulian, perhatian seseorang pada dirinya. bentuk kepedulian dapat bermacam-macam seperti merawat diri, menerima diri apa adanya, mengakui kesalahan yang dimiliki, hingga memaafkan diri sendiri.

Tentu hal ini merupakan hal yang penting, karena sebagian orang masih belum bisa untuk menerima kondisi dan keadaan dirinya, belum bisa mengakui kesalahan, dan belum bisa memaafkan dirinya saat melakukan kesalahan hingga memiliki perasaan bersalah yang besar. Mencintai diri sendiri merupakan hal yang wajar dan tidak egois, namun jika terjadi secara berlebihan maka tentu akan menjadi gangguan pada seseorang seperti gangguan narsistik.

seseorang yang belum mencintai diri biasanya akan lebih menyalahkan diri sendiri terhadap permasalahan dan kegagalan yang sedang terjadi, pola hidup yang tidak sehat seperti tidak menjaga kesehatan, memiliki pemikiran pesimis dan tidak yakin pada dirinya hingga akan lebih mudah terkena gangguan psikologis seperti depresi. Dengan mencintai diri sendiri tentu akan mendapatkan keuntungan.

Keuntungan apa yang bisa di dapat ketika kita berhasil mencintai diri sendiri ?

  1. Seseorang akan menjadi lebih banyak bersyukur, akan lebih menikmati hidup dan menjadi lebih bahagia.
  2. Seseorang akan mengetahui kekurangan dan kelebihan yang dimiliki sehingga ia mampu mengetahui tujuan dan arah hidupnya
  3. Memiliki pemikiran yang positif, hal ini dikarenakan seseorang yang mencintai diri sendiri akan jauh lebih menerima diri nya, sehingga berbagai hal permasalahan yang di hadapi akan di pandang dari sudut yang berbeda dari sebagian orang
  4. Seseorang yang lebih mencintai diri akan terhindar dari beberapa gangguan klinis seperti cemas, depresi, hingga stres, karena seseorang yang mencintai diri nya tidak akan melakukan self judgement.
  5. Hidup akan menjadi lebih sehat, karena mencintai diri sendiri bukan hanya terjadi pada psikis seseorang namun akan terdampak pada kehidupan kesehatan seseorang seperti pola makan yang berubah menjadi sehat, olahraga, dan sebagainya
  6. Akan menjadi lebih menerima diri apa adanya, seseorang akan tidak merasa terbebani karena sudah mengetahui kemampuan yang dimiliki. 

Mencintai diri sendiri bukan lah hal mudah, karena di beberapa kondisi, seseorang akan menghakimi diri nya sendiri. Seseorang juga lebih sering membandingkan diri nya dengan orang lain, hingga tidak adanya rasa syukur yang telah dilakukan pencapaian oleh diri sendiri. Rasa kurang seseorang akan meninggalkan jauh perasaan self love dalam diri seseorang.

“Cinta itu seperti angin. Kau tak dapat melihatnya, tapi kau dapat merasakannya.” 

Nicholas Sparks.

Bagaimana tips agar berhasil mencintai diri sendiri ?

Pertama, tentu dimulai dengan mengkonsumsi makanan yang sehat, berilah tubuh terlebih dahulu yang sehat sehingga akan memberikan dampak pada kesehatan mental anda.

Kedua, jauhi lingkungan yang mempengaruhi mu menjadi lebih buruk, dan yang hanya membuat diri menjadi bukan diri anda. Lakukan sebaliknya, dekatilah orang-orang yang memiliki pemikiran positif.

Ketiga, Kenali diri anda terlebih dahulu, cari tau mengenai diri anda, kekurangan, kelebihan, apa yang membuat anda cemas, kekhawatiran anda, lingkungan anda, dan semua tentang diri anda, dengan demikian maka akan lebih mudah untuk penerimaan diri

Keempat, Hilangkan pikiran negatif dalam diri anda, pikiran negatif bisa termasuk keraguan dalam diri, tidak percaya diri, hingga banyaknya pikiran dalam diri yang meminta kesempurnaan dalam melakukan sesuatu. Ubah lah mulai dari hal yang paling kecil yaitu dengan memandang sesuatu permasalahan dari sudut positif. Maka anda akan lebih mensyukuri lagi apa yang terjadi pada diri anda.

Kelima, Memaafkan kesalahan pada diri, hal ini sulit untuk dilakukan, namun sangat bermanfaat pada diri. Memaafkan kesalahan bisa terjadi karena permasalahan masalalu, kesalahan yang diperbuat, kegagalan, dan sebagainya. Hal ini sering terjadi pada inter personal seseorang, dapat terjadi di waktu kecil, remaja hingga dewasa. 

Ketika anda berhasil mencintai diri anda, maka akan terjadi perubahan yang besar pada diri anda. Semoga cara di atas dapat membantu anda dalam mencintai diri sendiri. Berikanlah cinta pada diri anda sebelum memberikannya pada orang lain. 

Semoga tulisan ini dapat membantu, dan bagikanlah kepada teman atau orang yang membutuhkan. Namun jika terdapat bagian yang tidak mengerti dapat menanyakan pada kolom komentar atau menghubungi melalui contact me.

Terima Kasih

Iklan

Self Esteem

Self esteem atau dengan istilah harga diri merupakan pandangan seseorang terhadap gambaran dirinya secara menyeluruh, baik itu nilai atas pencapaian yang di peroleh hingga bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri. Self esteem biasanya nilai-nilai postifi yang di miliki oleh seseorang dan di munculkan ke permukaan di hadapan banyak orang sebagai nilai jual atas dirinya. Di waktu sekarang, self esteem merupakan hal yang penting dalam membangun relasi, bersosialisasi, mendpatkan prestasi di bidang pendidikan, dalam bidang usaha jual beli, dalam bidang berkompetisi, dan hal lainnya yang dimana sekarang membutuhkan self esteem tersebut. Namun, tatkala seseorang lupa bagaimana cara menghargai diri sendiri sampai kurang mampu memberikan apresiasi terhadap diri sendiri dengan pencapaian yang telah di lakukan.

Tujuan dari self esteem yaitu untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang. Semakin tinggi self esteem maka semakin meningkat kualitas hidup seseorang. Lalu apa saja yang akan berubah ketika seseorang mempunyai self esteem  yang tinggi ? Orang akan berubah mulai dari penampilan, keyakinan individu tersebut, emosi, dan yang utama yaitu perilaku individu tersebut.

bossy

Disisi lain perubahan perilaku yang terjadi biasanya berubah menjadi perilaku yang positif, orang yang memiliki pandangan yang luas, terbuka, dan semakin lebih bijaksana dalam memilih. Namun disisi lain, terkadang seseorang yang memiliki self esteem yang tinggi juga memiliki perilaku yang negatif. Apakah bisa ? tentu bisa. Tidak jarang diantaranya semakin tinggi self esteem maka akan merasa menjadi orang yang memimpin, menjadi orang yang paling benar, dan menjadi orang yang bossy atau istilah lainnya menyuruh-nyuruh. Tentu hal ini sungguh tidak di harapkan.

Berikut ini beberapa diantara begitu banyak ciri seseorang yang belum memiliki self esteem yang tinggi :

  1. Mengalami perasaan malu, cemas hingga depresi
  2. Takut akan gagal
  3. Sering membandingkan diri dengan orang lain
  4. Lebih memikirkan kelemahan dari pada kelebihan
  5. Tidak percaya diri

Dan banyak lagi perasaan emosi negatif lainnya. Hal diatas dapat di pengaruhi oleh beberapa hal misalnya seperti lingkungan, sosial individu, hingga pola asuh seseorang. Lingkungan dapat berupa mengucilkan, merendahkan dan sebagainya dan bisa di dapat dari keluarga hingga orang terdekat. Pada sosial individu dapat berupa pernah di lecehkan, kritik menjatuhkan hingga perilaku yang tidak menyenangkan lainnya. Kemudian pola asuh merupakan faktor dari orang tua, bagaimana didikan orang tua dirumah dapat mempengaruhi self esteem seseorang. Orang tua yang selalu membandingkan, pola asuh otoriter, bergantung pada orang tua, dan banyak hal lainnya.

“Hitunglah umurmu dengan teman, bukan tahun. Hitunglah hidupmu dengan senyum, bukan air mata.”

John Lennon

selanjutnya, bagaimana cara untuk meningkatkan self esteem pada suatu individu ?

  1. Melakukan self talk; self talk atau berbicara dengan diri sendiri dapat membantu seorang individu meningkatkan self esteem-nya. Cara melakukannya cukup sederhana dengan berbicara dengan diri anda di depan cermin. Berikan kalimat-kalimat positif penguat dan kalimat motivasi pada diri anda.
  2. Tidak membandingkan diri dengan orang lain; Hal ini memang sulit untuk tidak dilakukan, seseorang yang lebih unggul sering kali dijadikan perbandingan, baik dari orang tua maupun diri sendiri. Hal ini perlu anda tidak lakukan lagi, karena anda perlu berfokus pada hal yang anda miliki. Setiap orang di ciptakan berbeda-beda kemampuannya, fokuslah pada kemampuan anda, dan jika ada hal yang dirasa kurang maka cukup perbaiki dan tidak di bandingkan.
  3. Ubah sudut pandang anda; sudut pandang yang di maksud yaitu seperti ketika anda mendapatkan masalah, mendapatkan tanggung jawab, kegagalan dan hal lainya, ubahlah pandangan negatif menjadi pandangan positif. Hal ini akan menjadikan anda lebih optimis, lebih percaya diri lagi untuk maju dan menghindari kesalahan yang sama terulang lagi.
  4. Menjauh dari lingkungan Toxic, seperti pembahasan sebelumnya, lingkungan toxic merupakan lingkungan yang tidak sehat. Lingkungan ini akan menarik anda dari keberhasilan dan kesuksesan. Anda akan memandang orang lain dan diri sendiri dari hal negatif, keritik menjatuhkan dan hal tidak berguna lainnya yang tidak membangun.
  5. Apresiasi diri anda; Banyak cara dalam mengapresiasi diri anda. Seperti ketika anda telah berhasil melakukan suatu pencapaian, bahagiakan diri anda, lakukan hal positif yang anda senangi, seperti makan hal yang anda senangi, membeli barang yang anda butuhkan, hingga memberi perawatan pada diri anda. Perawatan pada diri juga di butuhkan terutama pada penampilan, agar lebih merasa nyaman ketika di depan banyak orang. Hal ini menjadi nilai tambah dalam meningkatkan self esteem seseorang.

Hal diatas ialah beberapa cara dari sekian banyak hal yang dapat meningkatkan self esteem pada seseorang. Untuk sekedar informasi tambahan. Self esteem atau harga diri berbeda dengan percaya diri. Percaya diri dapat dikatakan self confidence. Mudahnya, harga diri merupakan nilai yang didapatkan dari pengalaman yang telah anda lalui, sedangkan percaya diri terbentuk dari kondisi lingkungan yang sedang di hadapi. Harga diri merupakan nilai dan percaya diri merupakan perasaan. Namun kedua hal tersebut saling berhubungan dimana seseorang yang memiliki self esteem yang tinggi maka akan memiliki rasa percaya diri.

Semoga tulisan saya ini dapat memberikan pengetahuan yang baru dan semoga dapat membantu anda yang telah membaca tulisan ini. Bagikan kepada orang sekitar anda yang membutuhkan. Jika ada yang kurang di mengerti silahkan mengunjungi kolom komentar di bawah atau pada bagian contact me.

Terima kasih

Iklan

Toxic Friendships

Setiap orang memiliki ruang lingkup sosial pertemanan dengan jenis dan karakteristik yang berbeda-beda, mulai dari pertemanan sekedar say hello, sahabat, hingga mempunyai hubungan yang lebih intim. Namun yang terjadi pada saat ini banyaknya hubungan yang tidak sehat hingga pertemanan yang buruk atau dengan istilah sekarang dapat dikatakan dengan toxic friendships. Lingkungan toxic sebenarnya  bukan hanya dari pertemanan, namun bisa seperti keluarga atau pun pasangan baik suami istri atau pun dalam hubungan pacaran. Tetapi pembahasan kali ini akan berfokus pada toxic frienships. 

Terkadang kita tidak menyadari bahwa kita sedang berada di lingkungan yang toxic. Hal ini di karenakan keseharian kita yang selalu bersama, hingga akhirnya terbiasa dengan kondisi yang sedang terjadi, sehingga kita kurang menyadari sedang berada di dalam lingkup pertemanan yang buruk. Namun, tidak menutup kemungkinan kita menyadari hal tersebut salah atau buruk, tetapi karena kita takut kehilangan seorang teman atau takut dalam kesendirian yang akhirnya membuat diri kita tetap mengikuti pertemanan tersebut.

Pertemanan yang telah di jalin selama bertahun-tahun hingga mengenal keluarga dan lingkungan dari teman tersebut juga membuat kita merasa mengacuhkan istilah toxic friendships. Mengacuhkan atau tidak memperdulikan hal tersebut merupakan bukan jalan keluar, dan hal tersebut akan semakin memperburuk diri anda dan kualitas hidup anda.

“Kamu tidak perlu menjadi luar biasa untuk memulai, tapi kamu harus memulai untuk menjadi luar biasa.”

Zig Ziglar

Seseorang yang sedang berada dalam lingkungan yang buruk atau toxic friendships akan memiliki ciri sebagai berikut :

  1. Kritik yang menjatuhkan dan tidak membangun; hal ini sering terjadi pada lingkungan pertemanan yang buruk, seseorang akan lebih senang mengkritik dengan menjatuhkan, terutama dengan kalimat yang tidak pantas, kasar, dan sejenisnya, namun sering di campur dengan kalimat lucu hingga membuat tertawa, namun hal ini bukanlah hal yang baik.
  2. Anda merasa dirugikan; hal ini dapat berupa berupa materi, waktu hingga tenaga. Setelah sekian lama anda akan pasti merasakan bahwa diri anda hanya dimanfaatkan, anda tidak akan mendapatkan apapun atau keuntungan apapun dari pertemanan tersebut.
  3. Membuat anda tidak berdaya; pertemanan yang buruk akan merendahkan anda, mengatakan seperti “jika anda di kelompok lain anda tidak akan bisa merasakan sebahagia atau seru seperti di kelompok ini”, “jika anda di kelompok lain anda tidak akan bisa muncul ke permukaan dan dilihat orang”,
  4. Membuat diri merasa tidak nyaman; Hal ini di pengaruhi karena anda akan terus menuntut diri anda seperti keinginan kelompok atau pertemanan anda. Anda akan selalu berusaha menyemibangkan atau mengikuti kemauan orang tersebut, tanpa anda sadari anda tidak bisa menjadi diri sendiri dan hanya bisa menjadi bayang-bayangan mereka,
  5. Cemburu; sebuah pertemanan yang buruk/ toxic friendships akan cemburu ketika melihat anda seru atau lebih banyak menghabiskan dengan orang baru atau teman baru. Bahkan kelompok toxic akan membahas atau menceritakan keburukan yang anda miliki di dalam kelompok atau suatu pertemanan. Hal ini tidak bisa di hindari dengan ciri lain karena iri.
  6. Adanya perasaan bersalah; setelah anda memiliki teman yang lebih seru, atau lebih menarik, teman yang buruk akan memberikan anda kalimat-kalimat yang tidak sepantasnya sehingga anda akan merasa bersalah, misal seperti “kacang lupa kulit”, “ habis manis sepah di buang” atau jika disimpulkan kedua peribahasa tersebut anda meninggalkan pertemanan yang selama ini ada dalam hidup anda, dan membuat anda merasa bersalah.
  7. Hingga akhirnya anda merasa lelah; anda akan merasa ingin keluar dari kelompok atau pertemanan tersebut, tetapi tidak mampu karena anda kurang berani, takut tidak memiliki teman atau tidak enak karena sudah lama berteman. Anda merasa kurang asertif dalam mengungkapkan perasaan yang anda rasakan hingga memendam, sampai akhirnya ada dua pilihan yaitu tetap bertahan atau keluar dari kelompok atau pertemanan tersebut.
Iklan

Seseorang teman yang baik atau kelompok pertemanan yang baik akan selalu mendukung anda, akan selalu memberikan kalimat positif yang baik dan pantas untuk diri anda, dan akan memberikan kritik yang membangun tanpa merendahkan diri anda. Hingga yang paling penting akan membuat anda selalu bahagia dan menjadi diri sendiri dalam pertemanan tersebut. Lalu apa yang dapat anda lakukan ketika terjebak dalam pertemanan yang buruk/ toxic friendships ?

Anda bisa melakukan beberapa hal yang utama, yaitu seperti belajar untuk tegas untuk tidak bilang tidak dan ya untuk iya. Anda dapat mengatakan perasaan yang anda miliki dan jadilah peribadi yang asertif. Jadilah seorang yang netral dalam pertemanan atau dalam kelompok, anda tidak perlu mengikuti pembahasan-pembahasan yang negatif hingga pembahasan yang memecah belahkan suatu sudut pandang tertentu. Hingga anda dapat membatasi interaksipada pertemanan atau kelompok tersebut. Disisi lain anda mempunyai kesempatan untuk menilai dan menentukan langkah anda selanjutnya dalam pertemanan atau kelompok tersebut.

Anda tidak perlu menghabiskan waktu dengan orang atau pertemanan yang buruk/ toxic. Hal ini justru akan menutup nilai-nilai positif yang anda miliki dan akan menurunkan kualitas diri anda. Jadi, mulai sekarang anda dapat menilai lingkungan anda berada, peka, dan peduli terhadap sekitar.

Semoga tulisan saya dapat memberikan pengalaman baru yang dapat anda terima. Namun jika ada hal yang ingin di tanyakan silahkan mengunjungi kolom komentar di bawah atau menghubungi saya pada bagian contact me

Terima kasih

Iklan