Gaya Pengasuhan dan Interaksi Orang tua-Anak

Dalam pengasuhan anak tentu akan memiliki dampak terhadap perkembangannya, oleh sebab itu orang tua dalam memberikan pengasuhan kepada anak tidak dapat sembarangan dan berhati-hati dalam mendidik, karena anak akan memiliki dampak yang akan membentuk suatu karakter pada dirinya hingga nanti ia menjadi orang dewasa. Biasanya orang tua memiliki 2 ciri yang paling umum dalam tugas pelaksanaan pengasuhan (parenting style) yaitu demandingness dan responsiveness.  Demandingness merupakan suatu bentuk orang tua yang memberikan tuntutan- tuntutan atau keinginan kepada anak yang menjadikan anak sebagai bagian dari keluarga, harapan saat anak dewasa, disiplin,  hingga perilaku menghadapi suatu permasalahan, dan semua faktor itu di kendalikan (control) oleh orang tua. Berbeda dengan responsiveness, yaitu suatu bentuk orang tua yang tanggap dalam memberikan pengasuhan, sehingga responsiveness akan membimbing kepribadian anak, pengaturan diri, dan kebutuhan-kebutuhan anak yang lainnya, sehingga bentuk dari responsiveness seperti penerimaan, suportif kepada anak, pemberian afeksi, dan penghargaan. Hal ini juga di dasari oleh teori psikososial yang di kemukakan oleh Baumrind, yang menggolongkan 4 tipe pola asuh sebagai gabungan dari kedua hal di atas, yaitu authoritative (otoritatif), authoritarian (otoriter), permissive (permisif), rejecting-negelcting (penolakan/ tidak peduli). 

Bentuk pengasuhan permisif biasanya paling sering di lakukan oleh orang tua yang terlalu baik, memberikan kebebasan yang berlebihan, menerima dan memaklumi perilaku yang di lakukan oleh anak, hingga sedikitnya memberikan tanggung jawab dan keteraturan pada anak. Orang tua seperti ini akan selalu memenuhi apapun kebutuhan si anak, membiarkan anak mengatur diri nya sendiri, tidak terlalu mematuhi kebutuhan dan perkembangan eksternal, dan jika hal ini terjadi secara terus menerus dan secara berlebihan setiap waktunya maka akan menjadi bentuk pengasuhan neglecting (penolakan/ tidak peduli) terhadap anak.

Gaya pengasuhan otoriter yang di berikan orang tua, akan selalu ingin membentuk, mengontrol, dan meminta anak untuk sesuai dengan aturan standar di rumah. Otoriter merupakan pengasuhan yang menekankan bahwa otoritas yang paling tinggi, yaitu dimana kepatuhan anak merupakan hal yang paling di utamakan. Setiap pelanggaran yang di lakukan oleh anak maka tidak akan luput dari pemberian hukuman. Orang tua menganggap bahwa anak merupakan tanggung jawab dirinya, dan dengan perinsip seperti itu orang tua akan merasa bahwa orang tua yang tahu akan masa depan si anak, orang tua tahu apa saja demi kebaikan si anak tanpa memperhatikan keinginan dan kemampuan dari si anak. Anak-anak juga kurang akan mendapat penjelasan secara rasional atas peraturan yang di berikan, sehingga anak terkadang hanya diminta patuh tanpa mengerti alasan mereka tidak boleh seperti yang di minta orang tua.

Gaya pengasuhan yang menurut saya paling baik untuk di lakukan ialah otoritatif. Gaya pengasuhan ini berbanding terbalik dengan otoriter, yaitu di mana anak akan di berikan alasan rasional setiap orang tua membuat peraturan, dan anak akan mengerti dan menghargai hal tersebut. Orang tua juga lebih bersikap terbuka kepada anak atas kebutuhan dan pandanganya, menghargai kualitas kepribadian anak sebagai suatu peribadi yang unik dan tidak sama. Agar lebih mudahnya saya melampirkan gaya pengasuhan tersebut :

sumber : Psikologi keluarga (2012)

Setelah melihat ke empat gaya pengasuhan orang tua, tentu ada ciri khas yang terjadi pada umumnya di anak. Efek yang di rasakan dari pengasuhan yang di berikan pada anak tentu berbeda-beda. Anak dengan pengasuhan otoritatif akan cenderung periang, memiliki rasa tanggung jawab sosial, percaya diri, berorientasi pada prestasi, dan lebih kooperatif. Anak dengan pengasuhan otoriter cenderung moody, kurang bahagia, mudah tersinggung, kurang memiliki tujuan dan tidak bersahabat. Anak dengan pengasuhan permisif akan cenderung impulsif, agresif, bossy, kurang kontrol diri, kurang mandiri, dan kurang berorientasi pada prestasi.

“Orangtua perlu mengisi ember harga diri anak mereka dengan sangat tinggi sehingga seluruh dunia tidak mampu mengurasnya sampai kering.”

Alvin Price

Sebenarnya, pengasuhan anak yang baik merupakan suatu bentuk pengasuhan yang dilakukan dengan dua arah, dimana artinya memiliki bahwa orang tua dan anak memiliki hubungan yang bersifat interaksional yang bisa di simpulkan perilaku orang tua akan mempengaruhi perilaku anak, dan sebaliknya perilaku anak akan mempengaruhi respon orang tua. Dengan demikian orang tua dan anak sama-sama di anggap memiliki kontribusi terhadap proses pengasuhan.

Proses pengasuhan juga tidak luput dari riwayat orang tua, kepribadian orang tua, relasi perkawinan (istri/suami), lingkungan, pekerjaan, dan karakteristik anak. Semua ini dapat mempengaruhi bagaimana orang tua dapat menentukan pengasuhan kepada anak. Saya beri contoh : jika orang tua memiliki pekerjaan seorang anggota militer, tentu anak juga akan di berikan pengasuhan otoriter atau kepatuhan, memberi perintah, dan otoritasi yang tinggi. Contoh kedua seperti orang tua yang dibesarkan dengan gaya pengasuhan otoriter maka tidak menutup kemungkinan akan melakukan hal serupa kepada anak.

Maka dengan demikian, diharpkan agar orang tua dapat lebih bijaksana dalam mengasuh dan memberikan bentuk pengasuhan kepada si anak. Perhatikan kebutuhan anak dan hal yang di harapkan oleh anak. Hal ini merupakan tidak mudah bagi orang tua, dan menjadi tantangan baru bagi orang tua muda yang baru memiliki anak atau yang akan berkeluagra. Semoga dapat membantu teman-teman sekalian, dan jika terdapat hal yang kurang di pahami agar dapat memberikan komentar atau pada bagian contact me.

Terima kasih ^^

Daftar Pustaka :

Sri Lestari. 2012. Psikologi Keluarga. Prenada Media Group : Jakarta

Iklan

6 Comments on “Gaya Pengasuhan dan Interaksi Orang tua-Anak

    • Terima kasih pertanyaannya, pada umum nya memang benar orang tua merasa paling benar dan memaksakan keinginan mereka, hal ini dikarenakan banyak orang tua masih merasa bahwa mereka lebih tau baik dari segi pengalaman hidup yang lebih lama dari si anak dan kemampuan cara berpikir. Hal ini juga tidak salah, karena sebagai anak masih membutuhkan arahan dan masukan yang terbaik, namun yang menjadi permasalahan yaitu tanpa melihat kemampuan dan keinginan dari si anak.

      Suka

      • Menurutmu bagaimana bang?
        Jika seorang anak dipaksa mengikutin keinginan orang tuanya. Sedangkan si anak mempunyai ilustrasi akan kehidupannya sendiri.

        Suka

      • Menurut saya pribadi, anak harus berani mengungkapkan apa yang di inginkan, ungkapkan apa yang di harapkan, karena pola asuh membutuhkan interaksi dua arah antara anak dan orang tua. Tetapi mengungkapkan bukan berarti melawan ya mas.

        Suka

Tinggalkan Balasan ke jumadiputramuratara Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: