Pernikahan di usia dini

Melihat fenomena yang terjadi belakangan ini mengenai pernikahan di usia dini, tentu turut diperhatikan oleh berbagai pihak yang terkait mengenai hal ini. Terutama pernikahan dini yang di maksud yaitu usia dibawah 17 tahun. Pembahasan kali ini tentu diluar dari konteks Suku, Agama, Budaya, dan Kepercayaan suatu keluarga atau individu.

Pernikahan secara kharafiah merupakan suatu proses menjalin hubungan yang lebih intim atau menjalin suatu ikatan yang membentuk sebuah keluarga, dimana status akan berubah menjadi pasangan suami dan istri. Berdasarkan peraturan di Indonesia dalam UU No 16 tahun 2019, untuk membentuk suatu keluarga harus memiliki usia minimal 19 tahun, baik laki-laki maupun pada perempuan, dan menurut WHO (World Helth Organization) juga memiliki standar yaitu usia minimal 19 tahun, jika di bawah usia tersebut, maka di katakan pernikahan dini. 

Photo by Kseniia Lopyreva on Pexels.com

Sebelum masuk pembahasan mengenai pernikahan dini, sebelumnya saya akan mencoba menjabarkan bagaimana proses pernikahan tersebut. Pernikahan bukan hanya sekedar saling mencintai, dan kemudian langsung menikah, tetapi lebih dari itu yang harus di persiapkan. Sebelum seseorang memutuskan untuk menikah, tentulah ia harus mempersiapkan berbagai hal, terutama pada laki-laki, ia harus mempersiapkan terlebih dahulu finansial, rancangan-rancangan bagaimana ia akan menjadi seorang kepala keluarga. Memang betul rezeki akan datang (istilah orang banyak menyebutkan rezeki akan datang jika menikah), namun tetap perlu di perhatikan, laki-laki tetap harus ada pemikiran jauh kedepan, karena hidup bukan hanya di hari ini saja. Laki-laki juga perlu untuk menyiapkan secara mental sebagai seorang kepala keluarga yang akan menghidupi istri dan anak. Pada perempuan pun begitu juga, seorang perempuan akan memutuskan untuk menikah jika telah siap untuk berkeluarga, sudah siap untuk mengayomi dan melayani suami, menjadi ibu yang pengertian, dan mampu menjadi ibu dimana tempat suami dan anak merasa rumah merupakan tempat yang paling nyaman dan tentram.

Persiapan pernikahan tersebut haruslah di pikirkan secara matang, karena pernikahan bukan untuk sekedar status ataupun tuntutan, dan jangan pernah untuk menganggap pernikahan untuk melarikan diri dari masalah. Saat laki-laki dan perempuan menikah, di saat itulah permasalahan baru akan muncul. Dimana permasalahan akan semakin bertambah dan dengan tingkat kesulitan yang bermacam-macam. Sebagai contoh : seseorang tidak akan dengan mudahnya menyatukan dua pola pikir yang berbeda, karena dua individu ini di besarkan dengan didikan/ pola asuh yang berbeda, dan ini menjadi masalah baru. Contoh kedua, ketika hadirnya buah hati di antara suami istri, tentu akan menjadi suatu hal yang patut di pikirkan, bagaimana pendidikannya, nutrisinya, kebutuhkannya, dan sebagainya. Sehingga hal ini membutuhkan mental yang benar-benar saat memutuskan untuk menikah.

Sehingga menikah bukanlah hal yang mudah dan bukan solusi jika anda merasa belum siap. Karena jika hal ini terjadi, yang akan memiliki dampak akibat kecerobohan orang tua yaitu seorang anak. Banyak dampak yang akan di rasakan oleh anak ketika orang tua berpisah atau kondisi di dalam keluarga tidak hangat, yang mungkin akan kita bahas pada topik berikutnya.

Iklan

Lanjut pada pernikahan usia dini, dengan penjelasan yang saya utarakan di atas, terlihat jelas bahwa seorang anak atau remaja yang menikah usia dini tentu belum mampu memiliki pemikiran di atas, karena seorang yang menikah di bawah usia 19 tahun, artinya seorang anak-anak dan remaja belum memiliki tugas untuk menjadi seorang ayah / ibu. Disisi lain secara medis, rahim hingga alat vital pada perempuan belum matang untuk di buahi dan melakukan hal intim, dan jika terjadi dapat menyebabkan luka, infeksi hingga mengalami penyakit pada kelamin. Dimana usia perkembangan anak-anak dan remaja juga tidak seperti masa perkembangan orang dewasa yaitu anak-anak akan bermain, belajar, memiliki teman pergaulan teman sebaya, dan sebagainya, dan ketika pernikahan usia dini, hal tersebut harus putus dan hilang. Seorang anak-anak dan remaja yang melakukan pernikahan dini, tentu belum memiliki tanggung jawab seperti orang dewasa. Dengan tidak memiiliki tanggung jawab yang sesuai usianya, maka hal ini tentu dapat menyebabkan seseorang yang melakukan pernikahan dini akan rentan memiliki permasalahan pada psikologisnya. Seseorang akan merasa tertekan, stres, bahkan jika seseorang memiliki fisik dan mental yang lemah, ketika melahirkan akan memiliki permasalahan baru contohnya babyblues. Sehingga saya pribadi sangat menyayangkan untuk melakukan pernikahan di usia dini.

Photo by C Technical on Pexels.com

“Pernikahan yang memuaskan adalah pernikahan yang diisi dengan lima kali lebih banyak percakapan yang positif daripada yang negatif”

Paus Yohanes Paulus II

Pendapat lain ada yang mengatakan bahwa pernikahan dini memliki dampak positif, yaitu akan menghindarkan laki-laki dan perempuan dari tindakan asusila/ amoral (seks bebas), perilaku menyimpang, dll. Menurut saya pribadi, ada banyak cara untuk menghindari seseorang dari perilaku asusila/ amoral, yaitu dengan melakukan pendidikan sexeducation. Hal ini perlu di ajarkan kepada anak, hal-hal yang tidak boleh dilakukan, dan hal mana yang orang lain tidak boleh lakukan kepada si anak, sehingga hal ini akan menghindari dari salah pergaulan, seks bebas dan hal lainnya.

Sekian pembahasan saya kali ini, bagi anda yang ingin menikah saya menghimbau untuk dapat melakukan konseling pernikahan terlebih dahulu, atau dapat melihat kembali pada diri anda, seberapa siapkah anda untuk menjalani kehidupan berkeluarga ? dan bagi anda yang telah berkeluarga, anda sebagai pasangan suami dan istri lebih seringlah melakukan toleransi dengan suami atau dengan istri, maka akan memperkecil munculnya masalah, dan ketika ada masalah akan memperbesar penyelesaiannya.Sehingga akan mewujudkannya keluarga yang harmonis.

Terima kasih, semoga dapat membantu saudara dan teman-teman sekalian. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: