Inner Child

Pembahasan kali ini mengenai bagian di dalam diri seseorang yang bereaksi atau berperan menjadi anak-anak. Seseorang yang dewasa tetap masih terhubung dengan inner childnya, hal ini yang menyebabkan seseorang ketika memiliki trauma masa lalu atau pada masa kanak-kanak akan muncul di masa sekarang atau diwaktu dewasa. Perlu di tekankan inner child berbeda dengan childish, namun kondisi childish bisa dipengaruhi oleh masa kanak-kanak atau kejadian yang di alami pada waktu masih kecil. 

Orang dewasa yang memiliki trauma atau luka di waktu anak-anak akan selalu terhubung dengan inner childnya kemana pun orang ini berada, dan akan muncul di waktu kapan pun ketika ada stimulus atau pemicu yang memunculkan efek dari trauma masa lalu tersebut. Dalam proses penyembuhan trauma atau luka di waktu anak-anak tidak semuanya dapat dengan cepat dan mudah, perlu dilakukannya proses penerimaan diri. Penerimaan diri bisa mencakup memaafkan orang lain, diri sendiri, hingga menerima kondisi yang telah terjadi, karena banyak yang terjadi orang yang mengalami inner child belum dapat menerima kondisi dan keadaan masa lalu.

Kondisi masa lalu apa saja kah yang dapat membuat seseorang memiliki luka di masa anak-anak atau trauma masa lalu? 

  1. Kehilangan seseorang yang disayangi seperti orang tua atau anggota keluarga yang lain
  2. Mendapatkan perilaku bullying atau perploncoan di depan orang banyak
  3. Mengalami pelecehan seksual atau kekerasan secara seksual
  4. Mengalami kejadian bencana alam yang hebat
  5. Terjadi kekerasan fisik atau verbal oleh lingkungan
  6. Mengalami penelantaran oleh orang tua atau wali
  7. Perpecahan di dalam keluarga
  8. Kejadian lainnya yang memiliki unsur emosi negatif seperti ketakutan, marah, sedih dan emosi negatif lainnya yang terjadi di saat masa anak-anak 

Dari sekian banyak kejadian yang terjadi di masa lalu, namun jika tidak di tangani dengan baik, dampak yang di rasakan dapat terjadi di masa kini atau ketika dewasa. Seperti apa saja kah dampak yang dirasakan? 

  1. Seseorang bisa bergantung dengan orang lain. Perilaku dependent ini biasanya di pengaruhi oleh perilaku orang tua yang memanjakan dari kecil, memenuhi semua kebutuhan anak, dan mengatur dalam menentukan sesuatu
  2. Berperilaku yang membahayakan diri sendiri atau orang lain.
  3. Tidak percaya diri, perilaku ini sering dipengaruhi saat anak terkena bullying hingga perilaku otoriter orang tua
  4. Memiliki permasalahan tidak percaya pada pasangan, ini bisa terjadi karena melihat orang tua berselingkuh dan sebagainya
  5. Tidak menyukai lawan jenis, bisa terjadi karena orang tua menyakiti pasangan, atau bahkan pernah mengalami pelecehan dan kekerasan seksual
  6. Dan lainnya

Seseorang biasanya tau akan permasalahannya, namun banyak orang yang tidak ingin memunculkannya dan hanya menguburnya, hal ini merupakan cara yang tidak dibenarkan dengan mengubur trauma atau luka di masa anak-anak. Semakin lama seseorang mengubur trauma masa lalu semakin lama juga seseorang akan mengalami penderitaan yang dirasa. Mengubur bukan berarti menyelesaikan.

“Ingatlah selalu bahwa Anda lebih berani dari yang Anda yakini, lebih kuat dari yang Anda lihat, dan lebih cerdas dari yang Anda pikirkan.”

Christopher Robin

Diatas telah saya katakan bahwa inner child dapat muncul ketika seseorang mengalami suatu stimulus. Saya mengambil salah satu contoh dampak diatas. Misalnya, B yang melihat orang tua berselingkuh dan berpisah. Ketika B sudah dewasa akan memunculkan issue trust pada pasangan. Hal ini terjadi karena B ragu terhadap pasangannya mengingat kejadian yang pernah dialami dan memunculkan overthinking, bahkan ada pula kejadian B akan selalu menemukan pasangan yang berselingkuh dan akhirnya berpisah secara berulang seperti istilah “lingkaran setan”. 2 hal diatas merupakan kejadian bila seseorang terjadi trauma masa lalu.

Apa yang dapat dilakukan dalam menghadapi inner child ? 

Pertama, terima masa lalu diri anda, kenali diri anda, pahami keinginan diri anda. Cara ini mungkin tidak semudah yang dibayangkan. Namun cara ini membantu anda dalam menghadapi inner child

Kedua, meluapkan emosi yang di rasakan, meluapkan dapat dengan cara yang positif, seperti menulis menceritakan semua hal yang dirasakan, yang dialami dalam kertas, dapat dengan bercerita kepada orang yang di percaya

Ketiga, laukan terapi hypnosis. Cara ini dapat membantu anda yang membutuhkan bantuan dalam menghadapi trauma masa lalu atau luka di masa anak-anak. Dengan cara ini biasanya akan memunculkan kembali ingatan maupun kejadian yang pernah anda alami.

Keempat, anda bisa melakukan meditasi, hal ini dapt membantu anda mengurangi emosi negatif.

Kelima, konsultasikan kepada tenaga ahli/ profesional. Dengan anda berani menceritakan kepada tenaga ahli merupakan tahap awal dari kesembuhan anda. 

Sekian tulisan saya, semoga dapat memberikan pengetahuan baru yang bermanfaat, bagikan kepada teman anda yang membutuhkan bantuan, dan jika terdapat bagian yang kurang di pahami, dapat menuju kolom komentar atau menuju bagian contact me. 

Terima kasih

Iklan

2 Comments on “Inner Child

Tinggalkan Balasan ke . Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

<span>%d</span> blogger menyukai ini: