Intellectual Disability

Pembahasan kali ini membahas mengenai salah satu gangguan yang mempengaruhi fungsi intelektual pada diri seseorang. Sebelum lanjut pada pembahasan berdasarkan American Psychiatric Association-Diagnostic sudah mengganti sebutan Retardasi Mental (Mental Retardation) menjadi Keterbatasan Intelektual (Intellectual Disability). Jadi, tidak ada lagi penyebutan Retederdasi Mental/ RM, dan di indonesia sendiri lebih pada penyebutan tunagrahita.

Intellectual disability merupakan suatu gangguan yang mempengaruhi fungsi intelektual yang berada di bawah rata-rata dan mengalami gangguan dalam keterampilan adaptif dan dapat dideteksi sebelum usia 18 tahun. Bahkan dengan teknologi sekarang sudah dapat di ketahui sebelum pranatal atau pada saat masih berada di kandungan dengan menganalisa bentuk janin berdasarkan ciri-ciri dari seorang intellectual disability.

Membahas mengenai intellectual disability tentu memiliki tingkatan yang berbeda. Mulai dari yang ringan hingga sangat berat. Untuk yang sangat berat memiliki ciri fisik yang sama pada umumnya yaitu memiliki wajah mongol. Berikut ini saya jabarkan untuk kategori tingkatan seorang yang mengalami gangguan intellectual disability :

  1. Intellectual Disability Ringan (tingkat IQ 50 sampai 70). Pada gangguan dengan tingakatan ringan ini akan sulit untuk mendeteksi karena masih dapat mengikuti perkembangan sesuai tahap perkembangannya, namun akan terlihat perbedaannya ketika anak memasuki sekolah
  2. Intellectual Disability Sedang (tingkat IQ 35 sampai 50). Pada gangguan di tingkatan sedang seseorang akan terlihat pada keterampilan sosial dan komunikasi, dan jika pada saat berada di lingkungan sosial seorang anak yang mengalami gangguan ID pada tingkat sedang akan mulai di jauhi atau diasingkan oleh teman-temannya. Pada saat ini anak akan terlihat mulai merasa berbeda dan mulai stres. Pada tingkatan ini diharapkan anak untuk mendapatkan pengawasan yang lebih ekstra.
  3. Intellectual Disability Berat ( tingkat IQ 20 sampai 35). Pada tingkatan ini seseorang yang mengalami intellectual disability akan terlihat pada pranatal atau sebelum kelahiran. Anak belum dapat berbicara pada saat pra sekolah, bahkan ada yang hingga masa remaja. Namun komunikasi nonverbal seperti bentuk gestur masih bisa dapat berkembang dan diberikan. Pada tingkatan ini perlu untuk diberikan pengetahuan mengenai self care atau bagaimana cara merawat diri sendiri dengan baik. mulai cara mandi hingga penampilan. Pada tingkatan ini membutuhkan pengawasan yang lebih ekstra.
  4. Intellectual Disability Sangat Berat (tingkat IQ dibawah 20). Pada tingkatan ini seseorang yang mengalami intellectual disability akan terus menerus membutuhkan pengawasan secara terus-terusan dan akan mengalami keterbatasan komunikasi dan fungsi motorik hingga usia dewasa. Perlu untuk diberikan pengetahuan mengenai menolong diri sendiri dan self care atau perawatan pada diri sendiri.
  5. Intellectual Disability tidak ditentukan. Pada tingkatan ini jika seseorang di diagnosa intellectual disability tetapi kemampuan inteligensinya tidak dapat di ukur menggunakan alat ukur yang baku, misalnya seperti seseorang yang mengalami tunarungu (gangguan pada pendengaran).

Berikut saya sertakan juga karakteristik perkembangan orang yang mengalami intellectual disability yang bersumber dari sinopsi psikiatri, 2010 :

Tingkatan reterdasi mentalUsia pra sekolah (0-5)
maturasi dan perkembangan
Usia sekolah (6-20)
Latihan dan Pendidikan
Dewasa (21 dan lebih)
Keadekuatan sosial dan kejuruan
Sangat beratID terlihat, kapasitas berfungsi minimal dalam
bidang sensorimotorik, memerlukan perawatan
bantuan, dan pengawasan terus menerus
Ada beberapa perkembangan motorik,
dan terbatas terhadap menolong diri sendiri.
Beberapa perkembangan motorik dan bicara dan memerlukan perawatan
BeratPerkembangan motorik sedikit, berbicara
sedikit atau tidak punya keterampilan
berbicara, tidak mampu belajar.
Dapat berbicara atau belajar komunikasi, dapat
dilatih kebiasaan sehat, dan mampu mendapatkan
manfaat dari latihan kebiasaan sistematik.
Dapat melakukan perawatan diri dibawah pengawasan dan dapat melingdungi diri sendiri dengan tingkat minimal/rendah dalam lingkungan terkendali.
SedangDapat berbicara atau belajar komunikasi,
kesadaran sosial buruk,motorik cukup, dapat
ditangani pengawasan sedang.
Dapat belajar keterampilan sosial dan
pekerjaan, tidak dapat berkembang lebih dari
kelas 2 SD secara akademik, dapat belajar
pergi sendirian di tempat yang telah dikenal.
Dapat bekerja sendiri dalam pekerjaan yang tidak dilatih atau setengah dilatih dengan kondisi diawasi, memerlukan pengawasan dan bimbingan saat berada kondisi stress sosial
RinganDapat mengembangkan keterampilan sosial
dan komunikasi, tidak dapat dibedakan dengan
orang normal.
Dapat belajar keterampilan akademik sampai
kelas 6 SD atau akhir usia remaja, hingga dapat dibimbing untuk menyesuaikan diri dengan sosial
Biasanya dapat mencapai keterampilan sosial dan kejuruan yang adekuat untuk membiayai diri sendiri atau mungkin membutuhkan bantuan dan bimbingan jika dibawah stres sosial
sumber : sinopsis psikiatri, 2010

Setelah mengetahui dari tingkatan Intellectal disability maka selanjutnya membahas mengenai faktor yang membuat seseorang dapat mengalami gangguan ID, dimulai dari faktor gen, pranatal, perinatal, hingga faktor lingkungan.

“Kata-kata ramah itu singkat dan gampang diucapkan, namun gaungnya benar-benar tiada berakhir.”

Bunda Teresa

Faktor Gen

Dalam faktor gen cukup banyak yang mempengaruhi, mulai dari kelainan kromosom hingga mengalami syndrom. Pada Kelainan kromosom didapatkan jenis kelainan seperti trisomi 21. Pada normalnya seseorang memiliki 2 kromosom 21, namun yang terjadi kelainan faktor gen terdapat 3 kromosom 21. Kemudian akibat nondisjungsi juga mempengaruhi faktor gen ID, dimana sel normal dan sel trisomi terdapat pada baberbagai jaringan dan terakhir ada faktor translokasi yang sering terjadi pada kromosom 21 dan 15, dan hal ini di pengaruhi oleh orang tua sebagai pembawa (carrier).

Faktor Pranatal

Pranatal atau biasa disebut dengan sebelum kelahiran. Kondisi ini dapat dikatakan kondisi yang terjadi pada saat bayi masih berada di dalam kandungan Ibu. Banyak faktor yang mempengaruhi anak terlahir ID seperti faktor penyakit, contohnya diabetes yang tidak terkendali, anemia, etc. karena penyakit ini mempengaruhi perkembangan sistem pusat janin. Selain itu faktor infeksi virus contohnya penyakit rubella atau campak jerman juga mempengaruhi anak terlahir intellectual disability. virus lainnya yang menganggu kondisi janin yaitu seperti HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS yang menurunkan tingkat kekebalan dan virus yang merusak jaringan di tubuh, dan yang terakhir faktor zat. Zat yang dimaksudkan seperti obat-obat terlarang atau narkoba, zat adiktif, alkohol hingga obat aborsi atau penggugur kehamilan. 

Faktor Perinatal

Faktor ini kebalikan dari pranatal, yaitu kondisi bayi sesudah kelahiran atau pasca kelahiran. Kondisi ini memungkinan bayi atau anak terpapar beberapa faktor, diantaranya karena infeksi. Infeksi yang didapat bisa berupa meningitis dan infeksi bakterial. Hal ini membuat orang tua harus lebih memperhatikan lagi kesehatan bayi dan anaknya. Kemudian faktor trauma kepala. Faktor ini bisa berupa anak yang jatuh dan kepala terbentur, atau akibat benturan benda yang mengenai kepala, dan terakhir faktor masalah lainnya. Seperti apa ? bisa seperti anak yang terkena tumor dan membutuhkan bedah kepala, kemudian kemoterapi yang mempengaruhi fungsi otak.

Faktor lingkungan dan sosiokultural

Pada faktor ini terdapat beberapa hal yang mempengaruhi seperti dari keluarga yang miskin / ekonomi menengah kebawah dan kekurangan secara sosiokultural. Hal ini terjadi pada saat pranatal, dimana bayi yang mengalami malnutrisi sehingga terjadi kurangnya kebutuhan gizi pada saat bayi berada didalam kandungan. Kehamilan pada remaja, juga merupakan dapat memicu terjadinya anak yang ID karena dapat melahirkan secara prematur atau Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Kecukupan gizi pada sesudah kelahiran juga dibutuhkan untuk perkembangan otak, sehingga sangat di butuhkan Gizi yang seimbang pada anak.

Hal diatas adalah faktor-faktor yang dapat memicu hingga menyebabkan anak menjadi intellectual disability, sehingga orang tua atau calon orang tua agar lebih dapat memperhatikan lagi setiap proses dan perkembangan yang terjadi pada anak. Sekian dari saya, semoga Bapak/ Ibu/ Orang tua/ Teman- teman dapat memeplajari hal baru dari web ini, namun jika ada hal yang ingin di tanyakan saya persilahkan untuk mengunjungi akhir page web ini dan mengisi kolom komentar, atau mengunjungi pada bagian contact me.

Terima Kasih

Iklan

Daftar Pustaka

Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Tangerang (Indonesia) : BINARUPA AKSARA; 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: